Kamis, 19 Maret 2015

Kereta


Telah hampir dua jam aku menunggunya. Telah dua kereta tujuan Stasiun Serpong ku biarkan begitu saja. Dia belum juga datang. Aku masih ingat betul hari dan jamnya. Persis hari ini, Sabtu, dan kira-kira satu jam yang lalu ia pasti sudah di sini. Di kursi ini. Menunggu keberangkatan kereta ketiga yang menuju Stasiun Serpong.
Seorang wanita datang dan lalu duduk di sampingku. Ku beri ia senyuman. Tulus. Dan, astaga! ia hanya memandangku sebentar lalu membuang muka begitu saja. Tanpa senyuman. Ia hanya sibuk memencet handphonenya yang terhubung ke kuping dengan headset. Ah, betapa telah tak enak hidup di bumi ini. Di ruang tunggu sebesar ini, orang-orang telah enggan berbagi. Bahkan hanya sebingkis senyum pun tak ada lagi.
Itu baru tentang senyum. Bagaimana dengan hal-hal yang perlu diperbincangkan?. Oh, bukan. Bukannya aku ingin curhat pada wanita sebelahku ini. Bukannya aku ingin ia ikut merasakan kegaduhan hatiku yang sedang menunggu seorang lelaki. Bukan itu.
Setidaknya, ketika ia membalas senyumku, aku bisa melanjutkan dengan berbagai obrolan. Mungkin dengan berbagai pertanyaan:

Kenapa ya, kok lelaki begitu polosnya melindungi kita, padahal jelas-jelas kita yang menindas mereka?

Kamu setuju ga kalo Delman itu kendaraan yang paling romantis?
Walau semua pertanyaan-pertanyaan itu adalah caraku agar tak berasa dalam menunggu. Mungkin aku tak pernah benar-benar ingin berbincang dengannya.
Aku ingin bercerita! Tentang lelaki ini. Tapi pada siapa? Semua makhluk bumi sekarang sibuk. Ah, tapi aku lupa. Diriku masih mempunyai Aku. Diriku akan bercerita padaku saja.
Itu terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Tempat dan waktunya sama seperti sekarang. Bedanya, gerimis di waktu itu menginjak-injak Stasiun. Kaki-kaki hujan dengan bengisnya mendarat di berbagai tempat. Di gerbong kereta, atap stasiun, tanah, dan kabel listrik. Sungguh, sangat tak terduga ketika semua injakan itu berirama. Nada-nada injakan mereka seakan berharmoni di telingaku. Aku pun yakin, inilah harmoni dari Yang Maha Harmoni.
Aku juga menunggunya kala itu. Ia juga tak kunjung datang. Padahal kita sudah janjian untuk pulang bersama. Aku kesal. Aku segera naik kereta. Berharap akan menemukannya di dalam kereta. Beberapa menit kemudian, kereta berangkat.
Aku mulai mencarinya. Sengaja aku masuk di gerbong paling belakang, agar pencarian hanya sekali jalan. Dua gerbong paling belakang khusus untuk penumpang wanita. Jelas ia tak di sana. Mulai ku susuri, gerbong demi gerbong.
Kereta penuh dan sesak. Aku harus mengecil-ngecilkan tubuhku agar dapat melewati pagar-pagar manusia. Aku terpaksa berhenti sejenak ketika kereta mencapai suatu stasiun, karena selalu terjadi pergerakan yang terburu-buru dari semua orang. Yang mau keluar buru-buru, yang mau masuk apalagi.

Aku tak ingat ini sudah gerbong keberapa, karena fokusku melihat wajah-wajah lelaki di sana. Berharap segera menemukannya. Ada suatu perasaan yang mendorongku untuk melakukan itu. sampai suatu saat, pintu antar gerbong tempatku berada sekarang tak dapat di buka. Aku melihat sekeliling berharap ada yang membantu. Namun tak ada yang memperhatikanku. Aku terpaksa menunggu kereta mencapai suatu stasiun lagi, dan berpindah ke gerbong yang lebih depan lewat pintu samping. Aku segera tahu kereta ini telah berada di Stasiun Kebayoran. Dan aku pun tahu gerbong ini berada persis di belakang gerbong khusus wanita.
Di gerbong ini ia pun tak ada. Aku menyerah. Melangkah ke gerbong selanjutnya. Berdiri termenung memikirkannya. Ada sesutu yang harus ku sampaikan padamu sebelum kamu pergi, gumamku. Ya, lelaki yang kucari-cari ini akan pergi untuk beberapa waktu.
Kereta mendadak berhenti. Ini belum mencapai suatu stasiun. Orang-orang sekelilingku juga heran. Tak biasanya kereta berhenti di sini. Sejenak hening, sampai ada suara dari operator yang menyuruh kita agar segera meninggalkan kereta. Pintu otomatis segera terbuka. Para penumpang berebut keluar kereta.
Dari percakapan orang-orang, ku tahu sebab kereta ini berhenti. Telah terjadi kecelakaan, di Pondok Ranji. Bagian depan kereta menabrak sebuah bus yang sedang melintasi jalan yang sebidang dengan rel. Aku langsung teringat padanya. Dimana ia sekarang?
Aku pulang menggunakan angkot. Berdiam di rumah. HP ku yang tertinggal di sini langsung aku ambil. Ku coba langsung menghubunginya. Sial, Handphone-nya tidak aktif. Aku termangu. Menatap geremis yang semakin menderu.
Satu jam setelahnya. Geremis tak juga reda. Sampai kemudian layar Handphone-ku berkedap-kedip. Ada telpon masuk, dari Dedes, adiknya. Tanpa menunggu suaraku, Dedes langsung berucap:
“Kak, Bang Tanca meninggal. Kecelakaan kereta.”
Setelah itu tak kudengar lagi Dedes berbicara apa. Suara batinku seakan lebih keras dari suaranya. Batinku kemudian membisikkan nama lelaki itu. Sangat sunyi aku melirihkan namanya. Agar namanya lebih sunyi dari kesunyianku.
“Jadi, kamu tidak akan mungkin bertemu dia di sini?,” tanya Aku pada diriku.
Diriku hanya tersenyum.
“Kamu gila,” ucap ku. “Buat apa kau rela menunggunya sejak tadi? Ia pun sudah tak ada.”
“Keajaiban untuk semua makhluk.” Begitulah pembelaan diriku.
Dan benar saja. Di ujung sana, ku lihat lelaki dengan topi birunya. Ia baru datang. Ya, itu benar-benar dia. Topi itu adalah pemberianku. Ku belikan untuknya ketika kita selesai beribadah bersama di gereja depan rumahku.
Diriku mendekatinya. Aku juga mengikuti. Ku pandangi dia sengan senyuman, dia tak menoleh. Ku sapa dia, pun tak juga dia menoleh. Aku duduk terhempas di sampingnya. Memandanginya, dan kemudian berbisikk di telinganya.
“Aku di sini, Tanca. Tidakkah kau merindukanku?” bisik ku.
“Iya, Dedes.” Ah, akhirnya ia menjawab. “Andai saja waktu itu kau tidak meninggalkanku, Dedes, tidak berangkat duluan menggunakan kereta yang celaka itu. Pasti kau sekarang di sini bersama ku.”

Gerimis telah reda. Datang seorang wanita dengan headset di telinga. Menggandeng Tanca memasuki kereta.