Jumat, 30 Januari 2015

Jika cinta mengapa ada dusta dan kebisuan?


Saat itu pertama kalinya aku mencintai seorang wanita yang sangat luar biasa. Wanita cantik dan sangat dewasa, Lala. Aku mulai mengenalnya ketika aku belajar disebuah pesantren yang berada di daerah Bandung. Aku semakin mengenalnya ketika aku mendapatkan nomor handphonenya dari seorang temannya. Kemudian aku pun mencoba untuk mencarinya diakun media sosial facebook. Aku semakin mengenalnya ketika aku mendapatkan nomor handphonenya dari seorang temannya. Kemudian aku pun mencoba untuk mencarinya diakun media sosial facebook. Cukup butuh waktu yang lama untuk benar-benar mengenalinya yang sampai akhirnya aku pun menembaknya.
Lala adalah seorang wanita cantik dan cerdas. Dikala aku kesulitan dengan akademikku, dia pun membantuku. Ketika itu dia sempat marah denganku karena aku dekat dengan seorang wanita yang sebenarnya adalah temanku saat aku duduk dibangku Sekolah Dasar. Aku dekat dengannya hanya menanyakan kabar, tetapi Lala cemburu. Aku menerima dengan hal ini, maka aku menjaga sikapku. Lala sampai melihat-lihat message di facebook. Aku pun menceritakan sebenarnya tentang wanita itu.
Semakin lama aku bersamanya dan semakin pula dewasa kita dalam menjalani kehidupan. Saat liburan Lala mengajakku untuk datang kerumahnya. Aku mengartikan hal ini bahwa Lala sudah memang serius, sesuai dengan keinginanku. Aku pun datang ke rumahnya, kemudian aku dikenalkan oleh kedua orang tuanya. Perbincangan panjang pun terjadi antara kita semua yang berada di rumah Lala. Setelah kehadiranku ke rumahnya, Lala semakin meyakinkan aku dengan sikap-sikapnya.
Hubunganku dengan kedua orang tuanya terus membaik. Aku pun dengan sahabat-sahabanya kenal dengan baik. Bahkan sahabat-sahabatku dengan sahabat-sahabatnya bertemanan dengan baik. Kami pun sering berlibur bersama. Suatu ketika sebagian waktuku, aku habiskan untuk berlatih nasyid bersama teman-temanku sehingga aku jarang sekali berkomunikasi dengannya. Alhamdulillah Lala mengerti dengan kegiatanku, bahkan dia terus memberiku semangat. Keluarga Lala selalu menghubungiku walau hanya sekedar bertanya kabar yang pada akhirnya kedua orang tua Lala percaya kepadaku untuk menitipkan Lala.
Pada tahun 2013 kami pun lulus dan kami diterima di perguruan tinggi yang berbeda. Berbeda tempat kuliah tidak masalah bagi kami. Aku berkuliah di daerah Jakarta sedangkan Lala berkuliah di daerah Bogor. Aku sempat mendengar kata-kata “putus” dari Lala ketika aku dengannya memiliki amarah yang tinggi. Tapi aku selalu meyakinkannya bahwa kita kuat akan segala hal yang kita hadapi. Terkadang masalah kecil yang terus menumpuk menjadikan rasa jengkel yang begitu berat dirasakan Lala.
Sudah hampir 4 tahun aku berpacaran dengannya. Liburan pada tahun 2013, aku dan Lala pergi kesuatu daerah yang ada di Bandung. Lala selalu membuat senyuman untukku. Terkadang aku sampai berfikir, kata-kata apa lagi yang mampu mengucapkan rasa terimakasih yang amat dalam. Semakin hari aku semakin belajar, belajar dari lingkunganku.
Setiap hari aku berangkat dari rumahku menuju kampusku. Cukup memakan waktu dalam perjalananku dari Bekasi menuju Jakarta. Tapi aku tidak merasakan lelah, karena yang aku lakukan adalah dengan menikati disetiap perjalanannya. Selama diperjalanan aku selalu banyak belajar dari sikap-sikap orang dalam mengendara dan lingkungan yang selalu berkembang. Kebutuhan untuk berubah semakin terus diperlukan.
Konflik kembali terjadi antara aku dan Lala. Lagi lagi kata “putus” terucap dari bibirnya. Dan aku kembali meyakinkan bahwa kita bisa menjalaninya dan ini bukan dari masalah yang besar. Kita sudah dewasa yang seharusnya mampu menimbang mana yang sebenarnya besar dan mana yang sebenarnya kecil. Tak membesarkan yang kecil dan tak pula mengecilkan yang besar. Aku tak pernah menyerah untuk terus meyakinkannya.
Lala ingin pulang kerumahnya, saat itu Lala sedang berada di Garut. Aku yang berada di Cibubur pun langsung bergegas berangkat ke Garut hanya untuk mengantarkannya sampai tempat bus di daerah Bandung. Sesampainya di tempat bus, tidak seperti biasanya tiba-tiba dia menyuruhku untuk kembali ke rumah dan tidak perlu menunggu sampai dia masuk kedalam bus tersebut. Tetapi hatiku penuh tanya dan menginginkan melihat dia sampai masuk kedalam bus. Akhirnya aku pun bersembunyi dan memperhatikannya. Dia mengatakan bahwa dia hanya pergi sendiri, tetapi aku melihat sosok lelaki yang sebelumnya pernah aku liat wajahnya dimedia sosial.
Aku memperhatikannya dari dalam bus tersebut. Ternyata laki-laki tersebut meminta bertukar tempat duduk dengan orang yang duduk disebelah Lala. Pada akhirnya pun mereka duduk bersebelahan. Saat itu aku merasa bersalah, mungkin karena sikapku yang mulai kurang perhatian kepadanya. Kemudian aku pun turun dari bus tersebut dan sms Lala untuk menanyakan apakah dia benar-benar sendiri dan untuk tetap berjaga dirinya. Lala menjawab, “Ya… aku sendiri, terimakasih. Kamu juga hati-hati dijalan yaa..”.
Aku semakin termotivasi dalam menjalani hidup ini. Yang terjadi bukanlah keterpurukan tetapi rasa semangat yang membara, dari semua ini aku menjadi inspirasi untuk puisi dan cerpenku. Aku tetap optimis dan percaya kepada Lala. Aku berfikir mungkin hanya kali ini saja. Aku pun kembali ke tempat pesantrenku dulu untuk sekedar bersilaturahim.
Setelah kejadian tersebut aku dan Lala tetap berkomunikasi kembali dan bahkan aku pergi nonton film disebuah bioskop di Jakarta. Aku melihat ada sedikit yang berubah darinya, sedikit menghindar. Suatu ketika, tidak ada kabar darinya mulai dari bulan November 2014. Aku sms tidak dibalas olehnya dan aku telpon pun tidak diangkat olehnya. Aku hanya bisa berharap dan berdoa.

Sudah hampir 2 bulan tidak ada kabar darinya. Sepanjang waktu ini lah aku pun berfikir. Tak ada perasaan yang mampu dipaksakan. Jika sudah tidak ada keinginan dari salah satunya maka timpanglah suatu hubungan tersebut. Karena hanya satu yang berharap dan terus berjuang. Untuk apa jika pilihannya sudah kepada yang lainnya. Tiba-tiba Lala sms dan aku pun tersenyum. Setelah aku membacanya, aku sedikit terkejut. Lala menanyakan perihal keberlanjutan hubungannya denganku. Aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Lala. karena aku berfikir untuk apa cinta jika hanya untuk dusta dan kebisuan. Cinta tercipta untuk saling jujur dan mengerti. Jika cinta, maka pertahankanlah bersama. Karena cintalah yang mampu menguatkan dan menjadikan dewasa. Belajar, belajar dan belajar...


-DR-