Saat
itu pertama kalinya aku mencintai seorang wanita yang sangat luar biasa. Wanita
cantik dan sangat dewasa, Lala. Aku mulai mengenalnya ketika aku belajar
disebuah pesantren yang berada di daerah Bandung. Aku semakin mengenalnya
ketika aku mendapatkan nomor handphonenya dari seorang temannya. Kemudian aku
pun mencoba untuk mencarinya diakun media sosial facebook. Aku semakin
mengenalnya ketika aku mendapatkan nomor handphonenya dari seorang temannya.
Kemudian aku pun mencoba untuk mencarinya diakun media sosial facebook. Cukup butuh
waktu yang lama untuk benar-benar mengenalinya yang sampai akhirnya aku pun
menembaknya.
Lala
adalah seorang wanita cantik dan cerdas. Dikala aku kesulitan dengan
akademikku, dia pun membantuku. Ketika itu dia sempat marah denganku karena aku
dekat dengan seorang wanita yang sebenarnya adalah temanku saat aku duduk
dibangku Sekolah Dasar. Aku dekat dengannya hanya menanyakan kabar, tetapi Lala
cemburu. Aku menerima dengan hal ini, maka aku menjaga sikapku. Lala sampai
melihat-lihat message di facebook. Aku pun menceritakan sebenarnya tentang
wanita itu.
Semakin
lama aku bersamanya dan semakin pula dewasa kita dalam menjalani kehidupan.
Saat liburan Lala mengajakku untuk datang kerumahnya. Aku mengartikan hal ini
bahwa Lala sudah memang serius, sesuai dengan keinginanku. Aku pun datang ke
rumahnya, kemudian aku dikenalkan oleh kedua orang tuanya. Perbincangan panjang
pun terjadi antara kita semua yang berada di rumah Lala. Setelah kehadiranku ke
rumahnya, Lala semakin meyakinkan aku dengan sikap-sikapnya.
Hubunganku
dengan kedua orang tuanya terus membaik. Aku pun dengan sahabat-sahabanya kenal
dengan baik. Bahkan sahabat-sahabatku dengan sahabat-sahabatnya bertemanan
dengan baik. Kami pun sering berlibur bersama. Suatu ketika sebagian waktuku,
aku habiskan untuk berlatih nasyid bersama teman-temanku sehingga aku jarang
sekali berkomunikasi dengannya. Alhamdulillah Lala mengerti dengan kegiatanku,
bahkan dia terus memberiku semangat. Keluarga Lala selalu menghubungiku walau
hanya sekedar bertanya kabar yang pada akhirnya kedua orang tua Lala percaya
kepadaku untuk menitipkan Lala.
Pada
tahun 2013 kami pun lulus dan kami diterima di perguruan tinggi yang berbeda. Berbeda
tempat kuliah tidak masalah bagi kami. Aku berkuliah di daerah Jakarta
sedangkan Lala berkuliah di daerah Bogor. Aku sempat mendengar kata-kata “putus”
dari Lala ketika aku dengannya memiliki amarah yang tinggi. Tapi aku selalu
meyakinkannya bahwa kita kuat akan segala hal yang kita hadapi. Terkadang masalah
kecil yang terus menumpuk menjadikan rasa jengkel yang begitu berat dirasakan
Lala.
Sudah
hampir 4 tahun aku berpacaran dengannya. Liburan pada tahun 2013, aku dan Lala
pergi kesuatu daerah yang ada di Bandung. Lala selalu membuat senyuman untukku.
Terkadang aku sampai berfikir, kata-kata apa lagi yang mampu mengucapkan rasa
terimakasih yang amat dalam. Semakin hari aku semakin belajar, belajar dari
lingkunganku.
Setiap
hari aku berangkat dari rumahku menuju kampusku. Cukup memakan waktu dalam perjalananku
dari Bekasi menuju Jakarta. Tapi aku tidak merasakan lelah, karena yang aku
lakukan adalah dengan menikati disetiap perjalanannya. Selama diperjalanan aku
selalu banyak belajar dari sikap-sikap orang dalam mengendara dan lingkungan
yang selalu berkembang. Kebutuhan untuk berubah semakin terus diperlukan.
Konflik
kembali terjadi antara aku dan Lala. Lagi lagi kata “putus” terucap dari
bibirnya. Dan aku kembali meyakinkan bahwa kita bisa menjalaninya dan ini bukan
dari masalah yang besar. Kita sudah dewasa yang seharusnya mampu menimbang mana
yang sebenarnya besar dan mana yang sebenarnya kecil. Tak membesarkan yang
kecil dan tak pula mengecilkan yang besar. Aku tak pernah menyerah untuk terus
meyakinkannya.
Lala
ingin pulang kerumahnya, saat itu Lala sedang berada di Garut. Aku yang berada
di Cibubur pun langsung bergegas berangkat ke Garut hanya untuk mengantarkannya
sampai tempat bus di daerah Bandung. Sesampainya di tempat bus, tidak seperti
biasanya tiba-tiba dia menyuruhku untuk kembali ke rumah dan tidak perlu
menunggu sampai dia masuk kedalam bus tersebut. Tetapi hatiku penuh tanya dan
menginginkan melihat dia sampai masuk kedalam bus. Akhirnya aku pun bersembunyi
dan memperhatikannya. Dia mengatakan bahwa dia hanya pergi sendiri, tetapi aku
melihat sosok lelaki yang sebelumnya pernah aku liat wajahnya dimedia sosial.
Aku
memperhatikannya dari dalam bus tersebut. Ternyata laki-laki tersebut meminta bertukar
tempat duduk dengan orang yang duduk disebelah Lala. Pada akhirnya pun mereka
duduk bersebelahan. Saat itu aku merasa bersalah, mungkin karena sikapku yang
mulai kurang perhatian kepadanya. Kemudian aku pun turun dari bus tersebut dan
sms Lala untuk menanyakan apakah dia benar-benar sendiri dan untuk tetap
berjaga dirinya. Lala menjawab, “Ya… aku sendiri, terimakasih. Kamu juga
hati-hati dijalan yaa..”.
Aku
semakin termotivasi dalam menjalani hidup ini. Yang terjadi bukanlah
keterpurukan tetapi rasa semangat yang membara, dari semua ini aku menjadi
inspirasi untuk puisi dan cerpenku. Aku tetap optimis dan percaya kepada Lala.
Aku berfikir mungkin hanya kali ini saja. Aku pun kembali ke tempat pesantrenku
dulu untuk sekedar bersilaturahim.
Setelah
kejadian tersebut aku dan Lala tetap berkomunikasi kembali dan bahkan aku pergi
nonton film disebuah bioskop di Jakarta. Aku melihat ada sedikit yang berubah
darinya, sedikit menghindar. Suatu ketika, tidak ada kabar darinya mulai dari
bulan November 2014. Aku sms tidak dibalas olehnya dan aku telpon pun tidak
diangkat olehnya. Aku hanya bisa berharap dan berdoa.
Sudah
hampir 2 bulan tidak ada kabar darinya. Sepanjang waktu ini lah aku pun
berfikir. Tak ada perasaan yang mampu dipaksakan. Jika sudah tidak ada
keinginan dari salah satunya maka timpanglah suatu hubungan tersebut. Karena hanya
satu yang berharap dan terus berjuang. Untuk apa jika pilihannya sudah kepada
yang lainnya. Tiba-tiba Lala sms dan aku pun tersenyum. Setelah aku membacanya, aku sedikit terkejut. Lala menanyakan perihal keberlanjutan hubungannya denganku. Aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Lala. karena aku berfikir untuk apa cinta jika hanya untuk dusta dan kebisuan. Cinta tercipta untuk saling jujur dan mengerti. Jika cinta, maka pertahankanlah bersama. Karena cintalah yang mampu menguatkan dan menjadikan dewasa. Belajar, belajar dan belajar...
-DR-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar