Kamis, 02 April 2015

Malam itu...

Sudah lama aku merindukan saat-saat seperti ini. Saat-saat dimana aku bisa menikmati dinginnya udara dimalam hari bersama kesayanganku si Paci. Kupacu kendaraanku dengan cepat. Ku nikmati disetiap perjalananku dengan lantunan sumbang yang keluar dari mulutku. Ah... macet. Ternyata benar dugaanku. Aku telat, ini tidak sesuai dengan yang direncanakan. Kuliahat jalanan begitu ramai, sampai aku sulit mencarinya. Kulihat diseberang sana ada seorang laki-laki menggunakan motor tampak seperti menunggu seseorang. Akhirnya aku menghampirinya. Ya... benar, dialah orang yang menungguku.
Suara bising dari kendaraan dan pasar malam menjadikan aku sulit mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Akhirnya kami pun memacu kendaraan kami. Yaa... kami menggunakan sepeda motor masing-masing. Aku mengikutinya tepat dibelakangnya. Sempat bosan rasanya berada dibelakangnya. Dia memacu kendaraannya terlalu pelan menurutku. Andai saja aku tahu jalan menuju tempat itu, akan ku salip dia dengan si Paci kesayangannku.
Hari ini sebenarnya adalah hari yang melelahkan bagiku. Kamu tahu? Hari ini aku bekerja full time. Pagi hari aku berangkat menuju sebuah salon dan butik yang aku miliki. Jangan tanya nama salon dan butiknya apaan! TIDAK TERKENAL. Tapi akan terkenal InshaAllaah... Aamiiin... Kemudian pada siang hari aku harus memacu si Paci ku menuju Jakarta. Siang itu aku memiliki job baru sebagai pembawa berita pada salah satu televisi terkenal di Indonesia. Dan malam hari aku harus bertemu dnegannya. Ini adalah janjiku.
Sesampainya di tempat yang dituju. Sebenarnya aku bingung, tempat ini begitu indah. Tetapi sedikit berantakan pada penempatannya. Sempat bingung bagaimana memulai. Diam.... diam... dan diam. Sebenarnya kami sama-sama sedang berfikir. Berfikir apa yang ingin dibicarakan. hahaha terdengar aneh, berbicara saja harus berfikir lama padahal kami saling kenal sejak kecil. Setelah beberapa menit akhirnya dia berbicara dan akupun berbicara. Maaf kata-kataku yang begitu norak. HAHAHA. Bosan rasanya harus berada di mall. Cukup senang dengan ada taman yang begitu luas di halaman mall.
Wow... kami memasuki mall tersebut. Kok wow si? -_-biasa ajah! Kami hanya membeli minuman dan kami pun langsung keluar dari mall tersebut. Taman di halaman mall tersebut begitu indah ditambah dengan pemandangan langit di malam hari. Pemandangan ini sudah lama tak kunikmati dengan hikmat (berle deh -__-). Cahaya bintang dapat ku nikmati. Hembusan angin. Indahnya gemerlap cahaya lampu disekitarnya. Lengkap sudah dimalam ini. Rasa capek jadi hilang (kayak lagu dangdut apaaa gitu). Terbayar dengan segala kerinduan dimalam ini.
Pertemuan kali ini sangat terasa berbeda. Entah mengapa kali ini aku merasa lebih takut. Aku memanfaatkan pertemuan ini dengan sebaik-baiknya. Aku menceritakan segala aktivitasku dari hal yang paling penting sampai hal yang paling flat sedunia. Antusiasmenya menyemangatkanku untuk terus bercerita dan terus bercerita. Aku pun tak lupa untuk tidak hanya menjadikannya sebagai pendengarku. Aku membiarkannya untuk bercerita. Bercerita apa pun yang dia mau.
Sudah lama tidak bertemu dan saat bertemu kembali ternyata dia tidak berubah. Dia tetap saja keras kepala. Ditengah-tengah perbincangan, aku mendengar suara pelan. Sepintas aku mendengar kata keinginannnya untuk foto bersama. Ah.... sudah lama kami berteman, sampai saat ini kami tidak memiliki foto bersama. Tapi aku rasa ini hanya khayalanku. Tidak mungkin secara tiba-tiba dia mengatakan seperti itu. Tidak biasanya. Kami melanjutkan perbincangan kami, sampai kami lupa bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB. Saat itu belum tenar dengan pemberitaan dan kejadian begal membegal. Ya... jadi biasa saja. Aku pun pulang dengan tenang padahal sudah cukup malam ketika harus melewati jalanan yang notabennya sepi. Awalnya dia ingin mengantarkanku. Aku pun langsung menolaknya dan terus menolaknya. Mengapa aku menolaknya? Ya karena aku takut dia nyasar dimalam hari. kalau dia diculik kan jadi aku yang repot. Lebih baik aku langsung menyuruhnya pulang.
Sesampai di rumah aku pun berfikir. Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini? Begitu aneh. Ah.... abaikanlah. Tiba-tiba aku mendapatkan sebuah cerita pendek darinya. kata perkata aku baca cerpen yang dibuatnya. Wow... setiap kata itu sangat indah, selalu dihiasi dengan bahasa-bahasa yang luar biasa, cerita yang tak mampu ditebak. Entah mengapa yang membuat aku bingung adalah akhir dari cerita itu. Mengapa ada yang meninggal? dan mengapa ada bayangan yang mengajaknya untuk pergi?
Dikala sore hari, dia mengucapkan salam perpisahan. Aku terkejut dengan hal ini. Ada apa dengan semua ini? Baru saja semalam aku bertemu dengannya dan kini dia mengucapkan salam perpisahan. Secepat itukah? Dia hanya mengatakan bahwa dia akan melanjutkan studinyadi Paris. Ya... aku rasa tak apa. Kami masih bisa bertemu suatu saat nanti. Tapi ada hal yang membuatku lebih mengejutkan adalah perkataannya. Dia mengatakan bahwa kemungkinan besar aku dan nya tidak akan bertemu lagi. Ada apa dengan ini?


_DR_

Kamis, 19 Maret 2015

Kereta


Telah hampir dua jam aku menunggunya. Telah dua kereta tujuan Stasiun Serpong ku biarkan begitu saja. Dia belum juga datang. Aku masih ingat betul hari dan jamnya. Persis hari ini, Sabtu, dan kira-kira satu jam yang lalu ia pasti sudah di sini. Di kursi ini. Menunggu keberangkatan kereta ketiga yang menuju Stasiun Serpong.
Seorang wanita datang dan lalu duduk di sampingku. Ku beri ia senyuman. Tulus. Dan, astaga! ia hanya memandangku sebentar lalu membuang muka begitu saja. Tanpa senyuman. Ia hanya sibuk memencet handphonenya yang terhubung ke kuping dengan headset. Ah, betapa telah tak enak hidup di bumi ini. Di ruang tunggu sebesar ini, orang-orang telah enggan berbagi. Bahkan hanya sebingkis senyum pun tak ada lagi.
Itu baru tentang senyum. Bagaimana dengan hal-hal yang perlu diperbincangkan?. Oh, bukan. Bukannya aku ingin curhat pada wanita sebelahku ini. Bukannya aku ingin ia ikut merasakan kegaduhan hatiku yang sedang menunggu seorang lelaki. Bukan itu.
Setidaknya, ketika ia membalas senyumku, aku bisa melanjutkan dengan berbagai obrolan. Mungkin dengan berbagai pertanyaan:

Kenapa ya, kok lelaki begitu polosnya melindungi kita, padahal jelas-jelas kita yang menindas mereka?

Kamu setuju ga kalo Delman itu kendaraan yang paling romantis?
Walau semua pertanyaan-pertanyaan itu adalah caraku agar tak berasa dalam menunggu. Mungkin aku tak pernah benar-benar ingin berbincang dengannya.
Aku ingin bercerita! Tentang lelaki ini. Tapi pada siapa? Semua makhluk bumi sekarang sibuk. Ah, tapi aku lupa. Diriku masih mempunyai Aku. Diriku akan bercerita padaku saja.
Itu terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Tempat dan waktunya sama seperti sekarang. Bedanya, gerimis di waktu itu menginjak-injak Stasiun. Kaki-kaki hujan dengan bengisnya mendarat di berbagai tempat. Di gerbong kereta, atap stasiun, tanah, dan kabel listrik. Sungguh, sangat tak terduga ketika semua injakan itu berirama. Nada-nada injakan mereka seakan berharmoni di telingaku. Aku pun yakin, inilah harmoni dari Yang Maha Harmoni.
Aku juga menunggunya kala itu. Ia juga tak kunjung datang. Padahal kita sudah janjian untuk pulang bersama. Aku kesal. Aku segera naik kereta. Berharap akan menemukannya di dalam kereta. Beberapa menit kemudian, kereta berangkat.
Aku mulai mencarinya. Sengaja aku masuk di gerbong paling belakang, agar pencarian hanya sekali jalan. Dua gerbong paling belakang khusus untuk penumpang wanita. Jelas ia tak di sana. Mulai ku susuri, gerbong demi gerbong.
Kereta penuh dan sesak. Aku harus mengecil-ngecilkan tubuhku agar dapat melewati pagar-pagar manusia. Aku terpaksa berhenti sejenak ketika kereta mencapai suatu stasiun, karena selalu terjadi pergerakan yang terburu-buru dari semua orang. Yang mau keluar buru-buru, yang mau masuk apalagi.

Aku tak ingat ini sudah gerbong keberapa, karena fokusku melihat wajah-wajah lelaki di sana. Berharap segera menemukannya. Ada suatu perasaan yang mendorongku untuk melakukan itu. sampai suatu saat, pintu antar gerbong tempatku berada sekarang tak dapat di buka. Aku melihat sekeliling berharap ada yang membantu. Namun tak ada yang memperhatikanku. Aku terpaksa menunggu kereta mencapai suatu stasiun lagi, dan berpindah ke gerbong yang lebih depan lewat pintu samping. Aku segera tahu kereta ini telah berada di Stasiun Kebayoran. Dan aku pun tahu gerbong ini berada persis di belakang gerbong khusus wanita.
Di gerbong ini ia pun tak ada. Aku menyerah. Melangkah ke gerbong selanjutnya. Berdiri termenung memikirkannya. Ada sesutu yang harus ku sampaikan padamu sebelum kamu pergi, gumamku. Ya, lelaki yang kucari-cari ini akan pergi untuk beberapa waktu.
Kereta mendadak berhenti. Ini belum mencapai suatu stasiun. Orang-orang sekelilingku juga heran. Tak biasanya kereta berhenti di sini. Sejenak hening, sampai ada suara dari operator yang menyuruh kita agar segera meninggalkan kereta. Pintu otomatis segera terbuka. Para penumpang berebut keluar kereta.
Dari percakapan orang-orang, ku tahu sebab kereta ini berhenti. Telah terjadi kecelakaan, di Pondok Ranji. Bagian depan kereta menabrak sebuah bus yang sedang melintasi jalan yang sebidang dengan rel. Aku langsung teringat padanya. Dimana ia sekarang?
Aku pulang menggunakan angkot. Berdiam di rumah. HP ku yang tertinggal di sini langsung aku ambil. Ku coba langsung menghubunginya. Sial, Handphone-nya tidak aktif. Aku termangu. Menatap geremis yang semakin menderu.
Satu jam setelahnya. Geremis tak juga reda. Sampai kemudian layar Handphone-ku berkedap-kedip. Ada telpon masuk, dari Dedes, adiknya. Tanpa menunggu suaraku, Dedes langsung berucap:
“Kak, Bang Tanca meninggal. Kecelakaan kereta.”
Setelah itu tak kudengar lagi Dedes berbicara apa. Suara batinku seakan lebih keras dari suaranya. Batinku kemudian membisikkan nama lelaki itu. Sangat sunyi aku melirihkan namanya. Agar namanya lebih sunyi dari kesunyianku.
“Jadi, kamu tidak akan mungkin bertemu dia di sini?,” tanya Aku pada diriku.
Diriku hanya tersenyum.
“Kamu gila,” ucap ku. “Buat apa kau rela menunggunya sejak tadi? Ia pun sudah tak ada.”
“Keajaiban untuk semua makhluk.” Begitulah pembelaan diriku.
Dan benar saja. Di ujung sana, ku lihat lelaki dengan topi birunya. Ia baru datang. Ya, itu benar-benar dia. Topi itu adalah pemberianku. Ku belikan untuknya ketika kita selesai beribadah bersama di gereja depan rumahku.
Diriku mendekatinya. Aku juga mengikuti. Ku pandangi dia sengan senyuman, dia tak menoleh. Ku sapa dia, pun tak juga dia menoleh. Aku duduk terhempas di sampingnya. Memandanginya, dan kemudian berbisikk di telinganya.
“Aku di sini, Tanca. Tidakkah kau merindukanku?” bisik ku.
“Iya, Dedes.” Ah, akhirnya ia menjawab. “Andai saja waktu itu kau tidak meninggalkanku, Dedes, tidak berangkat duluan menggunakan kereta yang celaka itu. Pasti kau sekarang di sini bersama ku.”

Gerimis telah reda. Datang seorang wanita dengan headset di telinga. Menggandeng Tanca memasuki kereta.

Jumat, 30 Januari 2015

Jika cinta mengapa ada dusta dan kebisuan?


Saat itu pertama kalinya aku mencintai seorang wanita yang sangat luar biasa. Wanita cantik dan sangat dewasa, Lala. Aku mulai mengenalnya ketika aku belajar disebuah pesantren yang berada di daerah Bandung. Aku semakin mengenalnya ketika aku mendapatkan nomor handphonenya dari seorang temannya. Kemudian aku pun mencoba untuk mencarinya diakun media sosial facebook. Aku semakin mengenalnya ketika aku mendapatkan nomor handphonenya dari seorang temannya. Kemudian aku pun mencoba untuk mencarinya diakun media sosial facebook. Cukup butuh waktu yang lama untuk benar-benar mengenalinya yang sampai akhirnya aku pun menembaknya.
Lala adalah seorang wanita cantik dan cerdas. Dikala aku kesulitan dengan akademikku, dia pun membantuku. Ketika itu dia sempat marah denganku karena aku dekat dengan seorang wanita yang sebenarnya adalah temanku saat aku duduk dibangku Sekolah Dasar. Aku dekat dengannya hanya menanyakan kabar, tetapi Lala cemburu. Aku menerima dengan hal ini, maka aku menjaga sikapku. Lala sampai melihat-lihat message di facebook. Aku pun menceritakan sebenarnya tentang wanita itu.
Semakin lama aku bersamanya dan semakin pula dewasa kita dalam menjalani kehidupan. Saat liburan Lala mengajakku untuk datang kerumahnya. Aku mengartikan hal ini bahwa Lala sudah memang serius, sesuai dengan keinginanku. Aku pun datang ke rumahnya, kemudian aku dikenalkan oleh kedua orang tuanya. Perbincangan panjang pun terjadi antara kita semua yang berada di rumah Lala. Setelah kehadiranku ke rumahnya, Lala semakin meyakinkan aku dengan sikap-sikapnya.
Hubunganku dengan kedua orang tuanya terus membaik. Aku pun dengan sahabat-sahabanya kenal dengan baik. Bahkan sahabat-sahabatku dengan sahabat-sahabatnya bertemanan dengan baik. Kami pun sering berlibur bersama. Suatu ketika sebagian waktuku, aku habiskan untuk berlatih nasyid bersama teman-temanku sehingga aku jarang sekali berkomunikasi dengannya. Alhamdulillah Lala mengerti dengan kegiatanku, bahkan dia terus memberiku semangat. Keluarga Lala selalu menghubungiku walau hanya sekedar bertanya kabar yang pada akhirnya kedua orang tua Lala percaya kepadaku untuk menitipkan Lala.
Pada tahun 2013 kami pun lulus dan kami diterima di perguruan tinggi yang berbeda. Berbeda tempat kuliah tidak masalah bagi kami. Aku berkuliah di daerah Jakarta sedangkan Lala berkuliah di daerah Bogor. Aku sempat mendengar kata-kata “putus” dari Lala ketika aku dengannya memiliki amarah yang tinggi. Tapi aku selalu meyakinkannya bahwa kita kuat akan segala hal yang kita hadapi. Terkadang masalah kecil yang terus menumpuk menjadikan rasa jengkel yang begitu berat dirasakan Lala.
Sudah hampir 4 tahun aku berpacaran dengannya. Liburan pada tahun 2013, aku dan Lala pergi kesuatu daerah yang ada di Bandung. Lala selalu membuat senyuman untukku. Terkadang aku sampai berfikir, kata-kata apa lagi yang mampu mengucapkan rasa terimakasih yang amat dalam. Semakin hari aku semakin belajar, belajar dari lingkunganku.
Setiap hari aku berangkat dari rumahku menuju kampusku. Cukup memakan waktu dalam perjalananku dari Bekasi menuju Jakarta. Tapi aku tidak merasakan lelah, karena yang aku lakukan adalah dengan menikati disetiap perjalanannya. Selama diperjalanan aku selalu banyak belajar dari sikap-sikap orang dalam mengendara dan lingkungan yang selalu berkembang. Kebutuhan untuk berubah semakin terus diperlukan.
Konflik kembali terjadi antara aku dan Lala. Lagi lagi kata “putus” terucap dari bibirnya. Dan aku kembali meyakinkan bahwa kita bisa menjalaninya dan ini bukan dari masalah yang besar. Kita sudah dewasa yang seharusnya mampu menimbang mana yang sebenarnya besar dan mana yang sebenarnya kecil. Tak membesarkan yang kecil dan tak pula mengecilkan yang besar. Aku tak pernah menyerah untuk terus meyakinkannya.
Lala ingin pulang kerumahnya, saat itu Lala sedang berada di Garut. Aku yang berada di Cibubur pun langsung bergegas berangkat ke Garut hanya untuk mengantarkannya sampai tempat bus di daerah Bandung. Sesampainya di tempat bus, tidak seperti biasanya tiba-tiba dia menyuruhku untuk kembali ke rumah dan tidak perlu menunggu sampai dia masuk kedalam bus tersebut. Tetapi hatiku penuh tanya dan menginginkan melihat dia sampai masuk kedalam bus. Akhirnya aku pun bersembunyi dan memperhatikannya. Dia mengatakan bahwa dia hanya pergi sendiri, tetapi aku melihat sosok lelaki yang sebelumnya pernah aku liat wajahnya dimedia sosial.
Aku memperhatikannya dari dalam bus tersebut. Ternyata laki-laki tersebut meminta bertukar tempat duduk dengan orang yang duduk disebelah Lala. Pada akhirnya pun mereka duduk bersebelahan. Saat itu aku merasa bersalah, mungkin karena sikapku yang mulai kurang perhatian kepadanya. Kemudian aku pun turun dari bus tersebut dan sms Lala untuk menanyakan apakah dia benar-benar sendiri dan untuk tetap berjaga dirinya. Lala menjawab, “Ya… aku sendiri, terimakasih. Kamu juga hati-hati dijalan yaa..”.
Aku semakin termotivasi dalam menjalani hidup ini. Yang terjadi bukanlah keterpurukan tetapi rasa semangat yang membara, dari semua ini aku menjadi inspirasi untuk puisi dan cerpenku. Aku tetap optimis dan percaya kepada Lala. Aku berfikir mungkin hanya kali ini saja. Aku pun kembali ke tempat pesantrenku dulu untuk sekedar bersilaturahim.
Setelah kejadian tersebut aku dan Lala tetap berkomunikasi kembali dan bahkan aku pergi nonton film disebuah bioskop di Jakarta. Aku melihat ada sedikit yang berubah darinya, sedikit menghindar. Suatu ketika, tidak ada kabar darinya mulai dari bulan November 2014. Aku sms tidak dibalas olehnya dan aku telpon pun tidak diangkat olehnya. Aku hanya bisa berharap dan berdoa.

Sudah hampir 2 bulan tidak ada kabar darinya. Sepanjang waktu ini lah aku pun berfikir. Tak ada perasaan yang mampu dipaksakan. Jika sudah tidak ada keinginan dari salah satunya maka timpanglah suatu hubungan tersebut. Karena hanya satu yang berharap dan terus berjuang. Untuk apa jika pilihannya sudah kepada yang lainnya. Tiba-tiba Lala sms dan aku pun tersenyum. Setelah aku membacanya, aku sedikit terkejut. Lala menanyakan perihal keberlanjutan hubungannya denganku. Aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Lala. karena aku berfikir untuk apa cinta jika hanya untuk dusta dan kebisuan. Cinta tercipta untuk saling jujur dan mengerti. Jika cinta, maka pertahankanlah bersama. Karena cintalah yang mampu menguatkan dan menjadikan dewasa. Belajar, belajar dan belajar...


-DR-

Sabtu, 16 Agustus 2014

Menjadi istri yang baik

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Menjadi Istri yang baik 

A. Tips Jadi Istri Solehah
Mari hayati pesanan isteri ‘Auf bin Muhlim Ashaibani kepada puterinya ketika hendak bernikah dengan al-Haris bin Amr, raja negeri Kandah. Sewaktu utusan diraja hendak membawa pengantin untuk disampaikan kepada raja, ibunya berwasiat kepada anak perempuannya :
"Wahai anakku! Kalaulah wasiat ini untuk kesempurnaan adabmu, aku percaya kau telah mewarisi segala-galanya, tetapi ia sebagai peringatan untuk yang lalai dan pedoman kepada yang berakal."
"Andai kata wanita tidak memerlukan suami kerana berasa cukup dengan kedua ibu bapanya, tentu ibumu adalah orang yang paling berasa cukup tanpa suami. Tetapi wanita diciptakan untuk lelaki dan lelaki diciptakan untuk mereka."
Wahai puteriku, Sesungguhnya engkau akan meninggalkan rumah tempat kamu dilahirkan dan kehidupan yang telah membesarkanmu untuk berpindah kepada seorang lelaki yang belum kamu kenal dan teman hidup yang baru. Kerana itu, jadilah 'budak' wanita baginya, tentu dia juga akan menjadi 'budak' bagimu serta menjadi pendampingmu yang setia.
Peliharalah sepuluh sifat ini terhadapnya, tentu ia akan menjadi perbendaharaan yang baik untukmu. 
Pertama dan kedua, berkhidmat dengan rasa puas serta taat dengan baik kepadanya.
Ketiga dan keempat, memerhatikan tempat pandangan matanya dan bau yang diciumnya. Jangan sampai matanya memandang yang buruk daripadamu dan jangan sampai dia mencium kecuali yang harum daripadamu.
Kelima dan keenam, memerhatikan waktu tidur dan waktu makannya, kerana lapar yang berlarutan dan tidur yang terganggu dapat menimbulkan rasa marah.
Ketujuh dan kelapan, menjaga hartanya dan memelihara kehormatan serta keluarganya. Perkara pokok dalam masalah harta adalah membuat anggaran dan perkara pokok dalam keluarga adalah pengurusan yang baik.
Kesembilan dan kesepuluh, jangan membangkang perintahnya dan jangan membuka rahsianya. Apabila kamu tidak mentaati perintahnya, bererti kamu melukai hatinya. Apabila kamu membuka rahsianya kamu tidak akan aman daripada pengkhianatannya.
Kemudian janganlah kamu bergembira di hadapannya ketika dia bersedih atau bersedih di hadapannya ketika dia bergembira. Jadilah kamu orang yang sangat menghormatinya, tentu dia akan sangat memuliakanmu.
Jadilah kamu orang yang selalu sepakat dengannya, tentu dia akan sangat belas kasihan dan sayang kepadamu.
Ketahuilah, sesungguhnya kamu tidak akan dapat apa yang kamu inginkan sehingga kamu mendahulukan keredaannya daripada keredaanmu, dan mendahulukan kesenangannya daripada kesenanganmu, baik dalam hal yang kamu sukai atau yang kamu benci dan Allah akan memberkatimu.”
Nasihat di atas seharusnya diterima dengan beberapa asas penting :
Suami yang dicari adalah suami yang beriman lagi taat kepada perintah Allah.
Ketaatan kepada suami adalah wajib dengan syarat beliau tidak melakukan perkara yang bertentangan dengan syariat Allah.
Begitulah hukum Allah, di sana sentiasa ada ‘dua bahagian muka syiling’. Kalau diperhati setiap nasihat di atas, perbuatan kita yang positif akan menghasilkan reaksi dan tindak balas positif juga dengan izin Allah.
Saya sering mengingatkan diri sendiri sebagai isteri dari muda hingga sekarang dan masih sangat mempercayai bahwa: "Kita hanya boleh mengubah diri sendiri. Percayalah apabila kita berubah, persekitaran dan orang di sekeliling juga akan berubah secara positif.”

B. Menjadi Istri IDEAL Di Mata Suami

Kebanyakan wanita tentu ingin menjadi istri sempurna di mata suaminya. Apalagi setelah mengetahui masih banyak kekurangan dalam dirinya. Anda mungkin akan menemukan cara untuk memperbaiki diri.
Perlu Anda tahu, menjadi istri ideal bukan hanya perlu mengubah sikap, tapi juga mengetahui lebih banyak tentang cara menciptakan pernikahan yang baik. Berikut sosok istri ideal di mata pria.
Tidak berusaha mengubah pasangannya

Jangan pernah punya pikiran untuk mengubah kebiasaan atau sikap suami. Meski Anda sudah marah-marah ketika melihat suami selalu meninggalkan pakaian kotor atau handuknya di lantai, tetap saja omelan Anda hanya dianggap angin lalu.
Seorang pakar perilaku mengatakan, Anda tidak bisa mengubah orang lain. Yang dapat mengubah hanya diri sendiri. Cara terbaik menangani situasi ini adalah mencari cara lain. Misalnya, meletakkan keranjang cucian kotor di tempat yang mudah diakses pria. Kompromi ini bisa menjadi jalan keluar yang baik.
Berterus terang

Jika Anda menginginkan sesuatu, jangan hanya mengungkapkan dengan ekspresi wajah cemberut atau omongan bertele-tele. Ungkapkan langsung padanya apa yang sedang Anda inginkan. Tidak selamanya jujur itu menyenangkan.
Mengucapkan “Terima Kasih”

Jadikan ucapan ini sebagai suatu kebiasaan. Katakan “terima kasih” ketika dia menjemput anak-anak dari sekolah, menempatkan pakaian kotor dalam keranjang atau memasak sarapan istimewa untuk Anda. Tidak perlu meberikan penghargaan berlebih, tapi cukup memperhatikan hal-hal yang suami Anda lakukan dan ucapkan “Terima kasih”.
Berikan kebebasan cukup

Setiap orang perlu sedikit waktu untuk dirinya sendiri. Entah itu, untuk bersantai, menjalani hobi, atau bersosialisasi dengan teman-teman. Jika suami adalah pencinta golf, namun Anda tidak, jangan menganggunya. Berikan kesempatan dan biarkan ia merasakan kesenangan.

Orang-orang yang berinteraksi dengan teman-temannya bisa merasakan hidup lebih sehat. Jadi biarkan dia memupuk hubungannya dengan teman-teman pria seperti halnya Anda ingin memiliki waktu bebas seperti masih lajang.
Membuatnya menjadi prioritas

Seorang istri sekaligus seorang ibu pasti sering lebih mengutamakan pekerjaannya, mengurusi rumah dan memperhatikan anak-anak ketimbang mengurusi suaminya. Menghabiskan waktu berduaan sekadar bersantai itu perlu. Meluangkan waktu menemaninya bekerja dan menemaninya menjalani hobi barunya juga bisa membuat si dia merasa diperhatikan dan menjadi prioritas buat Anda. Jika ini dia rasakan, otomatis dia akan berusaha menjadi suami yang baik.
Menjaga penampilan

Kebanyakan istri tidak punya waktu mempercantik diri atau menjaga penampilan. Untuk tetap membuat suami betah di rumah, ada baiknya Anda memperbaiki penampilan. Bisa dengan berolahraga, makan sehat dan melakukan perawatan tubuh bisa mempertahankan aura positif. Sikap percaya diri perlu dipertahankan, dan Anda akan terus menjadi wanita yang bersemangat menjaga keutuhan rumah tangga.

C. Menjadi Wanita & Istri Solehah 

Lihatlah pada diri anda wahai Istri…,
Apakah anda sebagai tempat yang tenang bagi suamimu? Dia merasa tenang untuk datang kepada anda setelah pergi dan berpisah, penat, capek dan lelah? Atau anda menghindarkan diri untuk menemaninya, dan sangat berat bagi anda untuk ikut menanggung kegalauan perasaannya ?
SeSungguhnya keberadaan anda sebagai tempat yang tenang bagi suami, mengingatkan anda agar bisa sebagai tempat istirahat baginya dalam segala sisi; menebarkan ketenangan dirumah, menyiapkan makanannya dan membersihkan rumahnya, sehingga dia tidaklah mendengarkan kecuali kebaikan. Dan matanya tidak melihat pada diri anda kecuali kebaikan. Jika anda menginginkan suami yang bisa menyejukkan mata anda, maka jadilah penyejuk mata baginya.
‘Abdullah bin Ja’far berwasiat kepada putrinya pada hari pernikahannya,  
“Hindarilah olehmu sifat cemburu, karena merupakan kunci terjadinya perceraian. Jauhilah olehmu banyak mencela, karena akan menyebabkan kebencian. Pergunakanlah celak, karena merupakan perhiasan yang paling baik. Dan wewangian yang paling semerbak adalah air.”

Seorang ibu menasehati putrinya pada malam pernikahan, dia berkata,  
“Kamu wajib untuk qona’ah, mendengar dan taat, menjaga diri dan tenang. Jagalah kecintaan. peliharalah harta benda. Bantulah pekerjaannya. Kerjakan apa yang menyenangkannya. Simpanlah rahasianya. Jangan menentang perintahnya. Tutuplah cela dan sakunya. Cintailah dia ketika sudah tua. Jagalah lisanmu. Pilihlah tetanggamu. Dan kokohlah didalam keimananmu.”

Lalu dimanakah Anda wahai wanita yang mulia dari wasiat-wasiat berharga ini untuk dipersembahkan kepada seorang suami yang disabdakan oleh Rosulullah,  
“Dia adalah surga dan nerakamu.”
Maka tidak sepantasnya bagi seorang istri untuk tertawa dihadapan suaminya ketika dia dalam keadaan marah. Dan tidak sepantasnya bagi seorang istri tatkala suaminya marah, dia tinggalkan dan tidak berusaha untuk menjadikannya ridha. Karena hal ini akan semakin menambah kemarahan suami. Betapa banyak istri yang mempunyai tempat tersendiri didalam hati suaminya karena dia selalu berusaha untuk mencintainya dan membuatnya ridha, sampaipun tatkala sang suami marah kepadanya dalam keadaan dia yang salah terhadap hak istrinya.
Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda,  
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wanita-wanita kalian yang berada disurga? Yang penyayang, banyak anak dan banyak meminta maaf; yaitu wanita yang tatkala dizhalimi (oleh suaminya) mengatakan, ‘Ini tanganku berada di tanganmu, aku tidak akan merasakan ketenangan hingga engkau ridha’.”
Dan istri harus tahu bahwa membantu suami adalah wajib baginya. Wajib baginya untuk menaati suami dalam perkara yang halal. Adapun dalam perkara yang harom, maka tidak boleh menaatinya. Karena itu wajib baginya untuk mengerjakan apa yang dibutuhkan oleh suami dirumahnya, tunduk kepadanya dan tidak sombong.

Istri sholihah adalah yang mengetahui tentang agungnya kedudukan suami; dan besarnya hak suami atasnya. Maka dia akan berusaha keras untuk memberikan ketenangan dan kebahagiaan kepadanya. Seorang istri hendaknya merenungkan sabda Rosulullah, “Seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
Maka wajib bagi istri untuk melayani suami dengan baik, menjaga rahasianya dan memelihara hartanya, karena dia adalah orang yang diamanati. Jangan sampai membuka tirainya kepada selain suami. Melembutkan hati anak-anak atasnya. Menghindari sikap keras dan kasar. Jika suami memberikan bantuan atau hadiah -misalnya-, maka berterimakasihlah atas perbuatannya dan memujinya dengan baik. Jangan mencela apa yang dia berikan dan jangan mencaci apa yang dia kerjakan untuk istri dan anak-anaknya. Istri harus mencari tempat-tempat yang bisa menjadikan suami ridha, kemudian bergegas mengerjakannya.
Selalu membantu suami untuk menjaga diri dan menghindar dari fitnah. Maka jangan tinggalkan tempat tidur suaminya, menyingkir tidur sendirian. Nabi bersabda,  
“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian istri menolaknya, kecuali yang di langit akan marah kepada istri tersebut hingga suami ridha kepadanya.”
Maka temanilah suami didunia dengan cara yang baik. Kerjakan apa yang disukai suami -meski dia tidak menyukainya-, dan tinggalkanlah apa yang tidak disukai suami- meski dia menyukainya- karena mengharap pahala dari Alloh, dan sadar bahwa suami adalah tamu yang sedang singgah ditempatnya dan hampir pergi meninggalkannya, maka janganlah disakiti baik dengan ucapan maupun perbuatan.
Rosulullah bersabda,
“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya didunia, kecuali istrinya dari bidadari berkata, ‘Jangan sakiti dia -semoga Alloh mencelakakan kamu-. Dia di sisimu hanyalah sekedar singgah, sebentar lagi akan meninggalkanmu menuju kami’.”
Ketahuilah bahwa wanita yang paling utama adalah yang selalu menganggap besar apa yang dilakukan oleh suaminya, meski perkara yang kecil. Memuji dihadapan orang lain dengan kebaikan meski suami penuh dengan kekurangan. Dia percaya bahwa semua itu akan berakibat baik baginya. Dan akan menjadi pendorong bagi suaminya pada suatu hari nanti untuk merasakan kecintaan dan kasih sayang istri kepadanya.
Hendaklah bersih hatinya terhadap suaminya. Jika dia kurang didalam memenuhi haknya, maka hendaklah dia pandai-pandai untuk menyampaikan hal tersebut dengan satu cara atau lainnya, tanpa menyakiti atau mencelanya, dengan mencari waktu yang tepat yang ketika itu pikiran suami sedang jernih dan lapang dada.
Kita memohon kepada Alloh agar menegakkan rumah-rumah kita diatas kebahagiaan. Dan kita memohon kepada Alloh agar menjadikan apa yang kita ucapkan ikhlas karena wajah-Nya Yang Mulia.


E. Menjadi Istri Idaman Dunia Akherat 


Diantara kepedulian Islam atas kehidupan rumah tangga Islami adalah penjelasan hak seorang istri dan hak seorang suami. agar terjadi keharmonisan hubungan berumah tangga. mengetahui posisi masing-masing agar tidak terjadi kesenjangan jabatan dalam rumah tangga. saling melengkapi dengan menunaikan tugas masing-masing.

Berikut adalah tips bagaimana menjadi seorang istri yang diidamkan didunia dan akherat dan menjadi istri terbaik baik suaminya :
1. Pertama dan yang paling penting adalah menerima kepemimpinan suami. 

Perlu direnungkan sabda Rosulullah-sholallahu 'alaihi wasallam- berikut :
Artinya :
"Jila aku (berhak) memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR at-Tirmidzi. Beliau mengatakan : Hadist Hasan)

Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- juga bersabda :
Artinya :
"Perempuan mana saja yang meninggal, sedangkan suaminya dalam keadaan ridho terhadapnya, maka dia masuk surga." (HR Ibnu Majah dan at-Tirmidzi. Beliau mengatakan : Hadist Hasan Ghorib)

Ketaatan kepada suami adalah wajib atas istri selama suami tidak memerintahkan kepada maksiat kepada Allah. dan selain itu seperti suami memerintahkan suatu hal yang baik, maka wajib atas istri untuk melakukannya.

2. Hindari berkata yang kurang baik atau yang tidak enak didengar oleh suami. 

Berkata yang santun dan bersikap lemah lembut terhadap suami tanpa mengucapkan kata-kata yang kasar baik ketika suami melakukan kesalahan atau karena hal yang lain. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
Artinya :
"Dan aku melihat neraka, aku belum pernah melihat pemandangan seperti pemandangan hari ini sebelumnya. dan aku melihat kebanyakan penduduknya adalah wanita. para sahabat bertanya : kenapa wahai Rosulullah? beliau menjawab : karena kekufuran mereka. para sahabat berkata : karena kufur terhadap Allah? beliau bersabda : karena kekufuran mereka terhadap suami, dan kekufuran mereka terhadap kebaikan (suami). jika engkau berbuat baik kepada mereka sepanjang satu tahun, kemudian mereka melihat ada sedikit keburukan dalam dirimu, maka mereka akan berkata : saya tidak pernah melihat kamu berbuat baik sedikitpun." (HR Bukhori dan Muslim)

3. Perbanyak Sedekah Dan Istighfar. 
Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
Artinya :"Wahai para wanita, bersedekahlah! dan perbanyak istighfar karena aku melihat penduduk neraka yang kebanyakan adalah kalian. salah seorang perempuan berkata : kenapa kami wahai Rosulullah? beliau bersabda : karena kalian banyak melaknat, mengkufuri suami, dan aku tidak melihat dalam diri kalian kecuali 2 (dua) kekurangan yaitu kekurangan akal dan agama yang sangat dominan dalam diri kalian. wanita itu berkata : wahai Rosulullah, apa yang dimaksud 2 (dua) kekurangan akal dan agama? beliau bersabda : kekurangan akal yaitu karena persaksian 2 (dua) orang dari kalian sebanding dengan seorang laki-laki, maka ini yang disebut kekurangan dalam akal. dan berhari-hari kamu tidak sholat (karena haid) dan juga tidak puasa ramadhan (karena haid, hamil atau menyusui), maka ini yang dimaksud kekurangan dalam agama." (HR Muslim)

F. AGAR ANDA BAHAGIA DENGAN SUAMI ANDA




Jangan membiarkan suami memandang dalam keadaan kita  tidak menggembirakannya. Wanita yang paling baik adalah wanita yang selalu membuat suaminya bahagia.
Hendaklah senyum itu senatiasa menghiasi bibirmu setiap kita dipandang oleh sang suami.
Perbanyaklah mencari keridhan suami dengan mentaatinya, sejauh mana ketaatan kita kepada suami, sejauh itu pulalah dia merasakan cintamu kepadanya dan dia akan segera menuju keridhaanmu.
Pilihlah waktu ynag tepat untuk meluruskan kesalahan suami.
Jadilah kita orang yang lapang dada, janganlah sekali-kali menyebut-nyebut kekurangan suami kepada orang lain.
Perbaikilah kesalahan suami dengan segala kemampuan dan kecintaan yang kita miliki, janganlah berusaha melukai perasaannya.
Janganlah memuji-muji laki-laki lain dihadapan suami kecuali sifat diniyah yang ada pada laki-laki tersebut.
Jangan engkau benarkan ucapan negatif dari orang lain tentang suami, hingga kita menyaksikannya sendiri.
Upayakan untuk tampil di depan suami dengan perbuatan yang disenanginya dan ucapan yang disenanginya pula.
Berilah pengertian kepada suami agar dia menghormati kita dan saling menghormati dalam semua urusan.
Kita harus selalu merasa senang berkunjung kepada kedua orang tuanya.
Janganlah kita menampakkan kejemuan padanya, jika terjadi kekurangan materi Ingatlah bahwa apa yang ia berikan kepadamu sudah lebih dari cukup.
Biasakanlah tertawa bila ia tertawa, menangis dan bersedih jika ia bersedih. Karena bersatunya perasaan akan melahirkan perasaan cinta kasih.
Diam dan perhatikanlah jika ia berbicara.
Janganlah banyak mengingatkan bahwa kita pernah meminta sesuatu kepadanya. Bahkan jangan diingatkan kecuali jika kita tahu bahwa ia mudah untuk diingatkan.
Janganlah  mengulangi kesalahan yang tidak disenangi oleh suami dan ia tidak suka melihatnya.
Jangan lupa bila melihat suami shalat sunnah di rumah, hendaknya kita berdiri dan ikut shalat dibelakangnya. Jika ia membaca, hendaknya kita duduk mendengarkannya.
Jangan berlebih-lebihan berbicara tentang angan-angan pribadi di depan suami, tetapi mintalah selalu agar ia menyebutkan keinginan pribadinya di depanmu.
Janganlah mendahulukan pendapat kita dari pendapatnya pada setiap masalah, baik yang kecil maupun yang besar. Hendaklah cinta kita kepadanya mendorong kita mendahulukan pendapatnya.
Janganlah mengerjakan shaum sunnah kecuali dengan izinnya, dan jangan keluar rumah kecuali dengan sepengetahuannya.
Jagalah rahasia yang disampaikan kepada kita dan janganlah menyebarkannya sekalipun kepada kedua orang tuanya.
Hati-hati jangan sampai menyebut-nyebut bahwa kita lebih tinggi derajatnya dari derajat suami. Hal itu akan mengundang kebencian kepada kita.
Jika salah satu dari orang tuanya sakit atau kerabatnya, maka kita punya kewajiban untuk menjenguk bersamanya.
Sesuaikanlah peralatan rumah tangga dengan barang-barang yang disenangi suami kita.
Jangan sampai  meninggalkan rumah meskipun sedang bertengkar dengannya.
Katakanlah kejemuan dan kebosanan kita ketika ia sudah meninggalkan rumah.
Terimalah udzurnya ketika ia membatalkan janjinya untuk keluar bersama kita, karena mungkin ia terpaksa memenuhi panggilan orang yang datang kepadanya.
Hindari sifat cemburu, sesungguhnya cemburu adalah senjata penghancur.
Janganlah mengabaikan pemimpin kita (suami) dengan alasan bahwa ia telah menjadi suami kita.
Janganlah berbicara dengan sang suami, seakan-akan kita suci dan dia berdosa.
Jagalah perasaannya, jangan gembira ketika dia sedang sedih dan jangan menangis ketika dia gembira.
Perbanyaklah menyebut-nyebut keutamaan suami di hadapannya.
Perlihatkan kepada suam kita bahwa kita turut merasakan apa yng dirasakan sang suami tatkala ia tidak berhasil mencapai maksud dan tujuannya.
Perbaharuilah (tekad suami) ketika terjadi kegagalan.
Jauhilah sifat dusta karena hal itu kanmenyakitkannya.
Ingatkanlah selalu pada suami kita bahwa kita tidak tahu (bagaimana nasib kita) seandainya tidak dipersunting olehnya.
Ucapkanlah rasa syukur dan terima kasih pada waktu ia memberikan sesuatu kepada kita.

Minggu, 20 Juli 2014

Happy Birthday sayang ({})

Hai.. pembaca blog desti.. Bagaimana kabar kalian semua? semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiiin... disini desti mau membagi cerita bahagia desti di hari ulang tahunnya naufal :)
Sudah dari jauh jauh hari, aku berbincang dengan mama aku bahwa aku ingin membuatkan naufal nasi tumpeng... yaa... itu keinginannya dari dulu. Alhamdulillah mama aku mau membantu aku untuk membuatnya. Dan aku pun membuat rencana dengan mamanya naufal. Setelah semuanya terencana, aku pun merasa sedikit lega.
Pada pukul 01.00 WIB tanggal 18 Juli 2014, aku terbangun dari tidur ku dan aku pun lekas bersiap-siap berangkat menuju rumah naufal. Aku sampai dirumah naufal kurang lebih pukul 03.00 pagi. Aku pun bersama mamanya langsung meniapkan nasi tumpeng. Setelah selesai, kita pun langsung membawa nasi tumpeng dan kue ulang tahunnya menuju kamarnya yang berada dilantai2. Sempat lama juga naufal terbangung dari tidurnya. Begitu pula adik-adik laki-lakinya yang masih tertidur. Akhirnya dia pun terbangun dan tersenyum. 



Setelah dia meniup lilinnya, kita pun langsung turun kebawah dan memulai santap sahur bersama.




Alhamdulillah... Bisa sahur bareng sama keluarga nya ({})
Sampai pagi hari aku dan naufal pun berangkat menuju Cidodol, sebelumnya kita mampir dulu ke rumahku dan kemudian baru deh kita berangkat ke Cidodol. Hari itu aku seharian full bareng naufal. Pada sore harinya kita buka puasa bersama Irfan, Soraya, Ade, dan Azzam di Budget Resto.
Setelah itu pun kita pulang :) Makasih banyak yaa sayang :* Makin dewasa yaa :)

Minggu, 13 Juli 2014

Palestina

SURAT DARI PALESTINA (Copas dari
Group WhatsApp dan Facebook)
Seluruh isi surat ini telah
diterjemahkan ke Bahasa Indonesia
dari Bahasa Arab, yang dikirim oleh
seseorang bernama Abdullah Al Ghaza
yang Mengaku dari Gaza City-Jalur
Gaza melalui surat elektronik (Email)
dan artikel diterbitkan oleh Buletin
Islami
“Untuk saudaraku di Indonesia,
mengapa saya harus memilih dan
mengirim surat ini untuk kalian di
Indonesia. Namun jika kalian tetap
bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin
satu-satunya jawaban yang saya
miliki adalah karena negri kalian
berpenduduk muslim terbanyak di
punggung bumi ini, bukan demikian
saudaraku?
Di saat saya menunaikan ibadah haji
beberapa tahun silam, ketika pulang
dari melempar jumrah, saya sempat
berkenalan dengan salah seorang
aktivis dakwah dari jama’ah haji
asal Indonesia, dia mengatakan
kepadaku, setiap tahun musim haji
ada sekitar 205 ribu jama’ah haji
berasal dari Indonesia datang ke
Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah
angka yang sangat fantastis dan
membuat saya berdecak kagum.
Lalu saya mengatakan kepadanya,
saudaraku, jika jumlah jama’ah haji
asal Gaza sejak tahun 1987 sampai
sekarang digabung, itu belum bisa
menyamai jumlah jama’ah haji dari
negara kalian dalam satu musim haji
saja. Padahal jarak tempat kami ke
Baitullah lebih dekat dibanding kalian.
Wah pasti uang kalian sangat banyak,
apalagi menurut sahabatku itu ada
5% dari rombongan tersebut yang
memnunaikan ibadah haji yang kedua
kalinya, Subhanallah.
Wahai saudaraku di Indonesia,
Pernah saya berkhayal dalam hati,
kenapa saya dan kami yang ada di
Gaza ini, tidak dilahirkan di negri
kalian saja. Pasti sangat indah dan
mengagumkan. Negri kalian aman,
kaya, dan subur, setidaknya itu yang
saya ketahui tentang negri kalian.
Pasti ibu-ibu disana amat mudah
menyusui bayi-bayinya, susu formula
bayi pasti dengan mudah kalian
dapoatkan di toko-toko dan para
wanita hamil kalian mungkin dengan
mudah bersalin di rumah sakit yang
mereka inginkan.
Ini yang membuatku iri kepadamu
saudaraku, tidak seperti di negri kami
ini. Tidak jarang tentara Israel
menahan mobil ambulance yang akan
mengantarkan istri kami melahirkan
di rumah sakit yang lebih lengkap
alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri
kami terpaksa melahirkan di atas
mobil, ya di atas mobil saudaraku.!
Susu formula bayi adalah barang
langka di Gaza sejak kami diblokade 2
tahun yang lalu, namun istri kami
tetap menyusui bayi-bayinya dan
menyapihnya hingga 2 tahun
lamanya, walau terkadang untuk
memperlancar Asi mereka, istri kami
rela minum air rendaman gandum.
Namun, mengapa di negri kalian,
katanya tidak sedikit kasus
pembuangan bayi yang tidak jelas
siapa ayah dan ibunya. Terkadang
ditemukan mati di parit-parit, selokan,
dan tempat sampah. Itu yang kami
dapat dari informasi di televisi.
Dan yang membuat saya terkejut dan
merinding, ternyata negri kalian
adalah negri yang tertinggi kasus
aborsinya untuk wilayah Asia.
Astaghfirullah. Ada apa dengan
kalian? Apakah karena di negri kalian
tidak ada konflik bersenjata seperti
kami disini, sehingga orang bisa
melakukan hal hina seperti itu?
Sepertinya kalian belum menghargai
arti sebuah nyawa bagi kami disini.
Memang hampir setiap hari di Gaza
sejak penyerangan Israel, kami
menyaksikan bayi-bayi kami mati.
Namun, bukanlah di selokan-
selokan atau got-got apalagi di
tempat sampah. Mereka mati syahid
saudaraku! Mati syahid karena
serangan roket tentara Israel!
Kami temukan mereka tak bernyawa
lagi di pangkuan ibunya, di bawah
puing-puing bangunan rumah kami
yang hancur oleh serangan Zionis
Israel. Saudaraku, bagi kami nilai
seorang bayi adalah aset perjuangan
kami terhadap penjajah Yahudi.
Mereka adalah mata rantai yang akan
menyambung perjuangan kami
memerdekakan negri ini.
Perlu kalian ketahui, sejak serangan
Israel tanggal 27 Desember
2009,saudara-sa udara kami yang
syahid sampai 1400 orang, 600 di
antaranya adalah anak-anak kami,
namun sejak penyerangan itu pula
sampai hari ini, kami menyambut
lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza,
dan Subhanallah kebanyakan mereka
adalah anak laki-laki dan banyak yang
kembar, Allahu Akbar!
Wahai saudaraku di Indonesia,
Negri kalian subur dan makmur,
tanaman apa saja yang kalian tanam
akan tumbuh dan berbuah, namun
kenapa di negri kalian masih ada bayi
yang kekurangan gizi, menderita
busung lapar. Apa karena sulit
mencari rizki disana? Apa negri kalian
diblokade juga?
Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak
ada satupun bayi di Gaza yang
menderita kekurangan gizi, apalagi
sampai mati kelaparan, walau sudah
lama kami diblokade. Sungguh kalian
terlalu manja! Saya adalah pegawai
tata usaha di kantor pemerintahan
HAMAS sudah 7 bulan ini belum
menerima gaji bulanan saya. Tetapi
Allah SWT yang akan mencukupkan
rizki untuk kami.
Perlu kalian ketahui pula, bulan ini
saja ada sekitar 300 pasang pemuda
baru saja melangsungkan pernikahan.
Ya, mereka menikah di sela-sela
serangan agresi Israel. Mereka
mengucapkan akad nikah diantara
bunyi letupan bom dan peluru,
saudaraku.
Dan Perdana Menteri kami, Ust
Isma’il Haniya memberikan
santunan awal pernikahan bagi
semua keluarga baru tersebut.
Wahai saudaraku di Indonesia,
Terkadang saya pun iri, seandainya
saya bisa merasakan pengajian atau
halaqah pembinaan di negri antum
(anda). Seperti yang diceritakan
teman saya, program pengajian kalian
pasti bagus, banyak kitab mungkin
yang kalian yang telah baca. Dan
banyak buku-buku pasti sudah kalian
baca. Kalian pun bersemangat kan?
Itu karena kalian punya waktu.
Kami tidak memiliki waktu yang
banyak disini. Satu jam, ya satu jam
itu adalah waktu yang dipatok untuk
kami disini untuk halaqah. Setelah itu
kami harus terjun ke lapangan jihad,
sesuai dengan tugas yang diberikan
kepada kami.
Kami disini sangan menanti-nantika
n saat halaqah tersebut walau hanya
satu jam. Tentu kalian lebih
bersyukur. Kalian punya waktu untuk
menegakkan rukun-rukun halaqah,
seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful
disana.
Halafalan antum pasti lebih banyak
daripada kami. Semua pegawai dan
pejuang HAMAS disini wajib
menghapal Surah Al-Anfal sebagai
nyanyian perang kami, saya
menghafal di sela-sela waktu istirahat
perang, bagaimana dengan kalian?
Akhir Desember kemarin, saya
menghadiri acar wisuda penamatan
hafalan 30 Juz anakku yang pertama.
Ia merupakan diantara 1000 anak
yang tahun ini menghafal Al-Qur’an
dan umurnya baru 10 tahun. Saya
yakin anak-anak kalian jauh lebih
cepat menghapal Al-Qur’an
ketimbang anak-anak kimi disini. Di
Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar
Islam Terpadu) seperti di tempat
kalian yang menyebar seperti jamur di
musim hujan. Disini anak-anak belajar
diantara puing-puing reruntuhan
gedung yang hancur, yang tanahnya
sudah diratakan, diatasnya diberi
beberapa helai daun kurma. Ya, di
tempat itu mereka belajar, saudaraku.
Bunyi suara setoran hafalan Al-
Qur’an mereka bergemuruh
dianatara bunyi-bunyi senapan
tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling
cepat mereka hafal, karena memang
didepan mereka tafsirnya. Langsung
mereka rasakan.
Oh iya, kami harus berterima kasih
kepada kalian semua, melihat
solidaritas yang kalian perlihatkan
kepada masyarakat dunia. Kami
menyaksikan aksi demo-demo kalian
disini. Subhanallah, kami sangat
terhibur. Karena kalian juga
merasakan apa yang kami rasakan
disini.
Memang banyak masyarakat dunia
yang menangisi kami disini, termasuk
kalian yang di Indonesia. Namun,
bukan tangisan kalian yang kami
butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran
air matamu adalah catatan bukti
akhirat yang dicatat Allah sebagai
bukti ukhwah kalian kepada kami.
Doa-doa dan dana kalian telah kami
rasakan manfaatnya.
Oh iya, hari semakin larut, sebentar
lagi adalah giliran saya menjaga
kantor, tugasku untuk menunggu jika
ada telpon dan fax yang masuk. Insya
Allah, nanti saya ingin sambung
dengan surat yang lain lagi. Salam
untuk semua pejuang-pejuang
Islam dan ulama-ulama kalian.
Saudaramu di Gaza,
( Abdullah Al Ghaza )

Pasukan Masuk ke Gaza, Serangan Darat Israel akan Dimulai

Hari Kelima, Gempuran Udara Israel ke Gaza Tewaskan 121 Warga Palestina

Serangan Udara Israel Tewaskan 18 Warga Palestina

Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Dibom, 4 Orang Tewas

Akankah saudara2 kita disana menyerah dan pergi meninggalkan tanah air mereka? Insya Allah tidak akan.

Generasi demi generasi Palestina tak kenal lelah mempertahankan tanah airnya, tanah milik umat Islam..

Abdul Rahman Al Zamli, wafat akibat serangan bbrp hari lalu, sdg diberi salam terakhir oleh tunangannya.

Bisa cek twitter tentang informasi lainnya